Kamis, 25 Februari 2010

Sejarah Perkembangan Keperawatan Jiwa

Sejarah

Perkembangan Keperawatan Jiwa

Dalam sejarah evolusi keperawatan jiwa, kita mengenal beberapa teori dan model keperawatan yang menjadi core keperawatan jiwa, yang terbagi dalam beberapa periode. Pada awalnya perawatan pasien dengan gangguan jiwa tidak dilakukan oleh petugas kesehatan (Custodial Care) (tidak oleh tenaga kesehatan). Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan. Mereka ditempatkan dalam suatu tempat khusus, yang kemudian berkembang menjadi Primary Consistend of Custodial Care.

Baru sekitar tahun 1945-an fokus perawatan terletak pada penyakit, yaitu model kuratif (model Curative Care). Perawatan pasien jiwa difokuskan pada pemberian pengobatan. Baru tahun 1950 fokus perawatannya mulai befokus pada klien, anggota keluarga tidak dianggap sebagai bagian dari tim perawatan. Obat-obat psychotropic menggantikan Restrains dan seklusi (pemisahan). Deinstitutionalization dimulai, mereka bukan partisipan aktif dalam perawatan dan pengobatan kesehatan mereka sendiri. Hubungan yang terapetik mulai diterpakan dan ditekankan. Fokus utama pada preventiv primer. Perawatan kesehatan jiwa diberikan di rumah sakit jiwa yang besar (swasta atau pemerintah) yang biasanya terletak jauh dari daerah pemukiman padat.

Sekitar dekade berikutnya, pada saat terjadi Pergerakan Hak-Hak Sipil (The Civil Rights) di 1960-an, penderita gangguan jiwa mulai mendapatkan hak-haknya. The Community Mental Health Centers Act (1963) secara dramatis mempengaruhi pemberian pelayanan kesehatan jiwa. Undang-Undang inilah yang menyebabkan fokus dan pendanaan perawatan beralih dari rumah sakit jiwa yang besar ke pusat-pusat kesehatan jiwa masyarakat yang mulai banyak didirikan.

Pada tahun 1970-1980, perawatan beralih dari perawatan rumah sakit jangka panjang ke lama rawat yang lebih singkat. Fokus perawatan bergeser ke arah community based care / service (Pengobatan berbasis komunitas). Pada tahun-tahun ini banyak dilakukan riset dan perkembangan teknologi yang pesat. Populasi klien di rumah sakit jiwa yang besar berkurang, sehingga banyak rumah sakit yang ditutup. Pusat-pusat kesehatan komunitas jiwa sering tidak mampu menyediakan layanan akibat bertambahnya jumlah klien. Tunawisma menjadi masalah bagi penderita penyakit mental kronik persisten yang mengalami kekurangan sumber daya keluarga dan dukungan sosial yang adekuat.

Awal abad 21, fokus perawatan pada preventif atau pengobatan berbasis komunitas, yang menggunakan berbagai pendekatan, antara lain melalui pusat kesehatan mental, praktek, pelayanan di rumah sakit, pelayanan day care, home visite dan hospice care. Pada saat ini banyak terjadi perubahan yang signifikan dalam perawatan kesehatan jiwa. Managed care menghubungkan struktur dan layanan baru. Seorang manajer kasus ditugaskan untuk mengkoordinasikan pelayanan untuk klien individu dan bekerja sama dengan tim multidisipliner. Alat-alat manajemen klinis yang menunjukkan organisasi, urutan dan waktu intervensi yang diberikan oleh tim perawatan untuk satu gangguan yang teridentifikasi pada klien. Pemberian dan pemfokusan layanan pencegahan primer (bukan hanya perawatan berbasis penyakit); mencakup identifikasi kelompok-kelompok berisiko tinggi dan penyuluhan untuk mencegah gaya hidup guna mencegah penyakit.

Di Amerika, terdapat organisasi Disabilities Act (1990) yang membantu memastikan bahwa penderita cacat, termasuk penderita gangguan jiwa, dapat berpatisipasi penuh dalam kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Organisasi-organisasi seperti The National Alliance of Mentally III, menghapus stigma gangguan jiwa dan member dukungan komunitas setempat bagi penderita ganguan jiwa dan keluarganya. Organisasi tersebut melakukan lobi untuk meningkatkan dana penelitian dan pengobatan gangguan jiwa. Pengetahuan tentang struktur dan fungsi otak berkembang pesat. Tahun 1990-an dianggap sebagai “Dekade Otak” karena pertumbuhan pesat pengetahuan tentang cara kerja otak. Seiring dengan kemajuan genetika, pengetahuan yang dihasilhan telah membentuk kembali pemahaman tentang penyebab dan pengobatan gangguan jiwa.

Meski dalam sejarah kesehatan jiwa banyak didominasi oleh dunia barat, namun sesungguhnya dalam dunia Islam sejarah kesehatan jiwa justru sudah dimulai sejak jauh sebelum Barat mengenal metode penyembuhan penyakit jiwa berikut tempat perawatannya. Pada abad ke-8 M di Kota Baghdad. Menurut Syed Ibrahim B PhD dalam bukunya berjudul "Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times", mengatakan, rumah sakit jiwa atau insane asylums telah didirikan para dokter dan psikolog Islam beberapa abad sebelum peradaban Barat menemukannya. Hampir semua kota besar di dunia Islam pada era keemasan telah memiliki rumah sakit jiwa. Selain di Baghdad ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah Insane Asylum juga terdapat di kota Fes, Maroko. Selain itu, rumah sakit jiwa juga sudah berdiri di Kairo, Mesir pada tahun 800 M. Pada abad ke-13 M, kota Damaskus dan Aleppo juga telah memiliki rumah sakit jiwa.

Lalu bagaimana peradaban Islam mulai mengembangkan pengobatan kesehatan jiwa? Menurut Syed Ibrahim, berbeda dengan para dokter Non Muslim di abad pertengahan yang mendasarkan sakit jiwa pada penjelasan yang takhayul, dokter Muslim justru lebih bersifat rasional. Para dokter Muslim mengkaji justru melakukan kajian klinis terhadap pasien-pasien yang menderita sakit jiwa. Tak heran jika para dokter Muslim berhasil mencapai kemajuan yang signifikan dalam bidang ini. Mereka berhasil menemukan psikiatri dan pengobatannya berupa psikoterapi dan pembinaan moral bagi penderita sakit jiwa. Selain itu, para dokter dan psikolog Muslim juga mampu menemukan bentuk pengobatan modern bagi penderita sakit jiwa seperti, mandi pengobatan dengan obat, musik terapi dan terapi jabatan.

Konsep kesehatan mental atau al-tibb al-ruhani pertama kali diperkenalkan dunia kedokteran Islam oleh seorang dokter dari Persia bernama Abu Zayd Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi (850-934). Dalam kitabnya berjudul Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Makanan untuk Tubuh dan Jiwa), al-Balkhi berhasil menghubungkan penyakit antara tubuh dan jiwa. Ia pun sangat terkenal dengan teori yang dicetuskannya tentang kesehatan jiwa yang berhubungan dengan tubuh. Menurut dia, gangguan atau penyakit pikiran sangat berhubungan dengan kesehatan badan. Jika jiwa sakit, maka tubuh pun tak akan bisa menikmati hidup dan itu bisa menimbulkan penyakit kejiwaan, tutur al-Balkhi.



Menurut al-Balkhi, badan dan jiwa bisa sehat dan bisa pula sakit. Inilah yang disebut keseimbangan dan ketidakseimbangan. Dia menulis bahwa ketidakseimbangan dalam tubuh dapat menyebabkan demam, sakit kepala, dan rasa sakit di badan. Sedangkan, ketidakseimbangan dalam jiwa dapat mencipatakan kemarahan, kegelisahan, kesedihan, dan gejala-gejala yang berhubungan dengan kejiwaan lainnya.

Dia juga mengungkapkan dua macam penyebab depresi. Menurut dia, depresi bisa disebabkan alasan yang diketahui, seperti mengalami kegagalan atau kehilangan. Ini bisa disembuhkan secara psikologis. Kedua, depresi bisa terjadi oleh alasan-alasan yang tak diketahui, kemukinan disebabkan alasan psikologis. Tipe kedua ini bisa disembuhkan melalui pemeriksaan ilmu kedokteran.

Bagaimana perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia? Perkembangan keperawatan jiwa di Indonesia dimulai sejak zaman dulu kala, ketika gangguan jiwa dianggap kerasukan, sehingga para dukun berusaha mengeluarkan roh jahat. Seiring perkembangan keperawatan jiwa di dunia, perkembangan di Indonesia pun turut berkembang. Hal ini dimulai sejak zaman Kolonial. Sebelum ada RSJ di Indonesia, pasien gangguan jiwa ditampung di RS Sipil atau RS Militer di Jakarta, Semarang, dan Surabaya, yang ditampung pada umumnya penderita gangguan jiwa berat. Kemudian, mulailah didirikan beberapa rumah sakit jiwa.

Minggu, 22 Februari 2009

FENOMENA DUKUN CILIK PONARI DAN WAJAH SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN INDONESIA

Heboh, itulah kata yang tepat untuk mengomentari bagaimana ramainya orang membicarakan Ponari. Saking bejubelnya pasien yang ingin berobat sampai-sampai ada yang meninggal dunia. Sungguh ironis sekali. Ya, beberapa pekan kemarin sampai sekarang ini Jombang menjadi pusat pemberitaan media cetak dan elektronik nasional yang mengabarkan bagaimana panjangnya antrean manusia yang hendak minta disembuhkan Ponari, si dukun cilik. Tidak hanya itu saja, bahkan Kak Seto dari Komnas Perlindungan Anak juga ikut nimbrung urun rembug agar sekolah Ponari tidak terganggu. Pokoknya heboh lah...

Bila kita lihat, fenomena ini sungguh memprihatinkan. Kacamata agama jelas melihat hal ini sebagai sebuah kesyirikan dan inilah juga yang dikatakan oleh MUI Jatim. Jika kita tarik ke ranah kesehatan maka akan kita temukan beberapa permasalahan yang menjadikan kondisinya seperti ini. Dengan logika yang sederhana saja maka akan kita bisa simpulkan :Pertama, masyarakat kurang bisa mengakses pelayanan kesehatan yang terjangkau dengan mudah. Meskipun telah digulirkan program Jamkesmas, Jamkesos, Jamkesda, JPKM atau yang sejenisnya tapi nampaknya apabila kita lihat dari tingginya animo masyarakat yang datang maka ada kemungkinan faktor pembiayaan kesehatan menjadi masalah bagi masyarakat. Hal ini tentunya tidak lepas dari birokrasi dan juga prosedur yang sering tidak dijalankan dengan benar. Salah sasaran, dalam program asuransi di atas merupakan rahasia umum, sehingga menimbulkan ketimpangan. Yang seharusnya berhak tidak mendapatkan haknya, yang seharusnya tidak memiliki hak justru menikmatinya dikarenakan dekat dengan birokrasi atau karena sebab lainnya. Perlu diadakan verifikasi ulang untuk memvalidkan data apabila masalah ini tidak ingin berlarut-larut karena masyaraktlah yang dirugikan.

Kedua,

Sabtu, 21 Februari 2009

Kualitas Perawat Lulusan STIKes

Tak dapat dipungkiri, menjamurnya STIKes di Indonesia memiliki dua dampak sekaligus yakni positif dan negatif. Pertama, dengan peningkatan jenjang pendidikan dari D III ke S1 cita-cita dari organisasi profesi yang menghendaki kesetaraan perawat dengan tenaga kesehatan lain tentu lebih mudah mewujudkannya. Apalagi PPNI sendiri telah berkomitmen untuk tidak memperbolehkan lagi pembukaan program pendidikan DIII keperawatan. Akan tetapi dengan adanya bergulirnya program D IV Keperawatan, juga masih menimbulkan pro dan kontra. Sehingga organisasi profesi dalam hal ini PPNI hendaknya mengambil sikap yang arif dan bijaksana, sehingga tidak menimbulkan gejolak. Perlu adanya dialog antara kedua pihak, duduk bersama dengan kepala dingin agar terwujud sebuah solusi yang tidak merugikan pihak pihak tertentu.

Adapun dampak negatif yang bisa saja muncul dan gejalanya telah nampak adalah rendahnya kualitas perawat lulusan S1 keperawatan (STIKes) sebagi akibat dari lemahnya kontrol dari pihak-pihak terkait. Masalah akan semakin kompleks manakala latar belakang dari pendirian STIKes bukan didasari untuk mencetak tenaga yang berkualitas dan menyalurkan lulusannya pasca pendidikan atau dengan kata lain hanya semata mata mengejar materi alias bussnis oriented dan gejalanya sekarang ini telah mulai nampak. Kita bisa mengamatinya melalui beberapa parameter, yaitu: pendirinya bukan berlatar belakang perawat dan bukan tenaga kesehatan (meskipun bukan jaminan), jumlah mahasiswa yang tidak rasional, biaya pendidikan yang tidak rasional (mahal sekali atau murah sekali), pengelolaan pendidikan yang kurang/tidak profesional (biasanya penggajian dosen tidak standar/rendah).

Pendapat diatas merupakan pendapat pribadi, saya yakin tentu ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Harapan penulis, dengan semakin bertambahnya STIKes mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas perawat Indonesia. Mari kita cetak perawat yang siap menghadapi era globalisasi, siap melayani sesama yang membutuhkan, siap bekerja hati nurani, siap melayani dengan landasan agama, siap bersusah dulu, siap maju, dan siap bersaing. Bravo Perawat Indonesia!



Senin, 29 Desember 2008

Bersama Hilal Ahmar Jogjakarta

Alhamdulillah, di yogyakarta sekarang telah hadir sebuah lembaga nir laba yang bergerak dibidang kesehatan. Hilal Ahmar namanya, yang berarti bulan sabit merah. sebagaimana kita tahu bahwa lambang bulan sabit merah merupakan lambang yang wajib dipakai oleh lembaga kesehatan milik umat Islam. Bertempat di daerah Sami Galuh Kulon Progo, Hilal Ahmar Yogyakarta bekerja sama dengan Ponpes Ibnu Qoyyim Yogyakarta mengadakan kegiatan bakti sosoal berupa pemeriksaan dan pengobatan gratis. Kegiatan ini tentunya sangat baik mengingat daerah Kulon Progo merupakan daerah yang menjadi sasaran program kristenisasi yang dilakukan oleh para misionaris.

Tentu kita semua telah mengetahui bahwa kristenisasi dilakukan dengan beberapa metode, yakni dari bantuan ekonomi, beasiswa pendidikan, serta pembiayaan kesehatan.

Rabu, 10 Desember 2008

Perawat Muslim Harapan Umat

Banyaknya rumah sakit Islam yang berdiri ternyata belum menjamin bahwa Perawat yang bekerja di rumah sakit tersebut adalah sosok perawat muslim harapan umat. Sebagian dari mereka kurang menjiwai sosok perawat yang profesional dan Islami. Ketus, kurang ramah kepada pasien, tampilan galak, dan kurang care masih sering dikeluhkan pasien dan keluarga pasien. Kondisi ini tentunya sangat ironis sekali, citra perawat muslim yang kurang baik tentunya akan menjadikan pasien dan keluarganya yang notabene beragama Islam bisa-bisa beralih ke Rumah Sakit Non Islam. Hal ini tentunya berbahaya, karena bisa jadi keimanan yang menjadi sasaran.

Sudah saatnya kita memiliki para perawat muslim harapan umat, profesional dalam melayani pasien dan senantiasa menegakkan syari'at.


Senin, 01 Desember 2008

Menjadi Manajer Rumah Sakit, susahkah?

Seorang manajer rumah sakit dituntut untuk memiliki segudang kemampuan untuk memimpin. Hal ini menjadi mutlak dikarenakan rumah sakit adalah sebuah lembaga yang padat modal, padat karya, padat SDM, dan tentunya padat MASALAH. Sekedar cerita, ada seorang yang berusaha menjadikan dirinya seorang Manajer rumah sakit dengan memaksakan diri. Dia bikin dirinya seolah-olah berwibawa, dia buat seakan-akan dirinya merupakan pelobi ulung, dia jadikan dirinya merupakan kunci sukses dan tidaknya sebuah rumah sakit, dunia seakan-akan kiamat kalau tidak ada dia, kondisi rumah sakit dia oponikan akan kacau balau tanpa kehadirannya. Kesombongannya membuat dia terlena, dia tidak menyadari suksesnya sebuah rumah sakit bukan hanya peran dari seseorang, dia lupa bahwa ada peran orang-orang lain yang turut bekerja keras untuk kemajuan rumah sakit... Tidak lama, keadaan ini berlangsung. Becik ketitik ala ketara begitulah orang jawa bilang. Akhirnya, dia didiberhentikan karena melakukan penyimpangan keuangan dan beberapa indikasi skandal. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi para manajer rumah sakit.

Insya Allah bersambung.

SEGERA HADIR STIKES BARU DI YOGYAKARTA

Insya Allah, dalam waktu dekat ini akan segera berdiri sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) baru di Yogyakarta. Menurut rencana, STIKes baru ini akan membuka 3 (tiga) program studi, yakni S1 Keperawatan, D3 Kebidanan, dan D3 Farmasi. Semoga dengan hadirnya STIKes baru ini nantinya akan memacu STIKes yang sudah ada untuk memperbaiki kualitas. Sehingga tercipta suasana kompetisi dalam arti positif dengan tujuan untuk menghasilkan SDM Kesehatan yang berkualitas juga. Harapan ke depan bisa mencetak SDM bertaraf Internasional.

Selamat datang STIKes baru di kota Yogyakarta.....